memposisikan diri dari Kisah Sebuah Batu Kusam

Standar

Suatu ketika seorang pengrajin batu berjalan di gunung yang
sangat gersang dan melihat seonggok batu dengan warna coklat
kusam yang telah diselimuti oleh lumut dan kenampakan luarnya
relatif lapuk. Kemudian dengan sekuat tenaga sang pengrajin
tersebut mengayunkan godamnya mengenai batu hingga mendapatkan
bongkahan batu sebesar kepala, dan mulai terlihat warna asli
dari batu tersebut adalah putih.

Dibawanya batu itu ke rumahnya, dipotongnya dengan menggunakan
gerinda (alat pemotong batu), hingga percikan api hasil gesekan
dengan batu itu sesekali terlihat. Dihaluskannya permukaannya
yang kasar dari batu tersebut dan dipoles.

Siang dan malam, ia berusaha membuat sebentuk batu penghias
cincin, dari warna batu yang putih dan kasar, berangsur-angsur
menjadi putih, mengkilap dan licin. Pengrajin tersebut tahu
betul kesempurnaan bentuk sebuah batu penghias cincin, akhirnya
terciptalah sebuah batu yang bernilai.

Renungan :

Sebenarnya alam memberikan berbagai pelajaran buat kita. Kita
adalah sebongkah batu, kondisi lapuk, berlumut dan rapuh adalah
kondisi kita yang tidak mampu melawan cobaan. Pukulan godam,
gesekan gerinda, percikan api, polesan amplas adalah gambaran
dari cobaan yang datang untuk menempa kita.

Terkadang kita menolak cobaan yang datang, tetapi sebenarnya
cobaan tersebut adalah sarana yang datang dari Sang Pencipta
untuk membentuk kepribadian kita sehingga kita bisa terlihat
bersinar.

Sekarang mari kita pikirkan, dimanakah posisi kita? Apakah kita
seonggok batu yang tidak berharga? Ataukah kita seonggok batu
yang sedang mengalami proses menjadi sebuah batu penghias cincin
yang memiliki nilai yang mahal?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s